Cerita Kanibal Resahkan Warga Polewali Mandar
Cerita Kanibal Resahkan Warga Polewali Mandar
POLEWALI -- Cerita kanibal atau manusia pemakan manusia kini semakin membuat gusar segenap warga Polewali Mandar. Cerita ini semakin heboh karena dikabarkan telah menelan korban manusia. Benar atau tidak, menjadi tanda tanya besar.
Cerita misterius manusia pemakan manusia ini telah menyebar luas ke hampir seluruh wilayah di Polewali Mandar. Bahkan cerita ini sudah sampai pula ke Pulau Kalimantan, ke telinga perantau Mandar di sana.
Menjawab isu tersebut, Radar Sulbar melakukan investigasi selama beberapa hari terakhir. Hasil penulusuran tim Radar Sulbar, disimpulkan cerita manusia kanibal sulit dipercaya kebenarannya.
Informasi adanya manusia kanibal diduga berawal di Dusun I Tapango Desa Tapango Kecamatan Tapango. Di dusun ini, dikabarkan seorang warga telah menjadi korban manusia kanibal. Diduga menjadi korban kanibal, Alawiah, berusia sekitar 40 tahun, warga Dusun I Tapango. Ia meninggal secara misterius sebulan yang lalu, tidak jauh dari rumahnya.
Keterangan yang diperoleh dari keluarga Alawiah, justru berbeda dengan isu yang berhembus di masyarakat. Orang tua Alawiah, Abd Hamid, mengatakan Alawiah bukan meninggal karena dimakan manusia kanibal.
Tapi Alawiah meninggal dunia karena dugaan menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi berdasarkan hasil cek terakhir di RSU Parepare, sekitar lima hari sebelum meninggal. Tekanan darah Alawiah disebutkan mencapai 150.
Hamid bercerita, pada waktu itu, Alawiah ke sumur di belakang rumahnya, untuk mandi pagi. Jarak sumur dari rumahnya sekitar 200 meter. Tiba-tiba perasaanya tidak enak, sehingga kembali ke rumahnya sebelum sampai ke sumur.
Ia mengaku kepada keluarganya jika leher bagian belakangnya terasa tegang, seperti baru saja dipukul seseorang. Tapi Ia merasa tidak pernah dipukul seseorang. Warga kemudian menggotong Alawiah ke rumah orang tuanya, tidak jauh dari rumahnya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Alawiah menghembuskan nafas terakhirnya. Menurut Hamid, dari peristiwa tersebut kemungkinan banyak pihak yang menganggap jika Alawiah meninggal oleh kanibal. Apalagi Alawiah sedang
mengandung selama tujuh bulan.
Tapi Hamid menegaskan jika itu tidak benar, sebab sebelum meninggal, Alawiah masih mengungkapkan apa yang telah dialaminya kepada warga dan orang tuanya. Tetangga Alawiah, Darwis (40), juga membantah isu yang beredar soal manusia kanibal.
Dirinya yang melihat langsung Alawiah sebelum meninggal, tidak melihat ada ciri pada diri Alawiah seperti ada bekas gigitan kanibal dan semacamnya. Tapi tetap meninggal secara wajar. Radar Sulbar juga memperoleh cerita dari warga Batutaka Kelurahan Pelitakang, Anti (35). Ia mengaku, sebelum Alawiah meninggal, dirinya sempat didatangi perempuan separuh baya. Orang tua itu mengenakan baju
merah.
Di bawah kolong rumahnya, orang tua itu meminta makan kepada Anti. Lalu Anti bertanya kepada si orang tua soal makanan yang hendak dimakannya. Sebagai penjual kue, Anti mempersilakan perempuan tua tersebut untuk memilih kue yang disukainya. Namun orang tua itu menolak dan mengatakan, "bukan itu yang saya mau makan, tapi orang," kata Anti mengutip ucapan si orang tua tersebut.
Mendengar ucapan itu, Anti lalu mengambil parang dan mengusir si perempuan tua. Anti juga berteriak minta tolong kepada tetangganya. Akhirnya tetangganya berdatangan. Anti kepada warga mengatakan, ada orang yang mendatanginya hendak memakan manusia. Lalu warga mencari orang tersebut, tetapi sudah tidak dilihat jejaknya.
Dari peristiwa Anti tersebut, warga menduga awal cerita manusia kanibal menyebar ke mana-mana. Namun sebagian besar warga Batutaka tidak percaya dengan cerita manusia kanibal tersebut. Meski demikian, sebagian warga di sana tetap gusar. Akhirnya warga melakukan ronda malam. Selama ini maupun selama melakukan ronda, warga tidak pernah menemukan ada manusia kanibal.
Terpisah, Kades Tapango, Abd Salam AR, sangat heran dengan isu manusia kanibal yang menyebar luas. Padahal sepengetahuannya, tidak pernah ditemukan ada manusia kanibal di desanya. Dalam pengetahuan Salam, pernah ada seseorang asing yang dimassa warga karena dicurigai manusia kanibal. Orang asing itu kemudian diketahui bernama Adi Siswanto, lalu diamankan ke Pospol Tapango. Belakangan diketahui jika Siswanto ternyata menderita sakit jiwa alias gila.
Usai kejadian itu, Radar Sulbar memperoleh informasi jika Siswanto, si orang gila, kini sering berkeliaran di Pasar Induk Wonomulyo. Tapi sampai saat ini, si orang gila yang diduga kanibal ternyata tidak pernah juga memakan orang. Sebagian warga di pasar tidak percaya jika si orang gila itu adalah kanibal.
Kepala Pospol Tapango, AKP Simon mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemantauan di wilayah kerjanya, tidak pernah mendapatkan manusia kanibal. Pihaknya juga sudah menyebar intelijen, juga tidak mendapatkan informasi akan adanya manusia kanibal.
"Tidak benar itu, seluruh desa sudah kita lakukan patroli, ternyata tidak ada," kata Simon. Meski Fiktif, Warga Tetap Gusar Isu manusia kanibal ini, terasa sangat fiktif, namun sebagian masyarakat tetap gusar. Pantauan Radar Sulbar di beberapa wilayah, cerita manusia kanibal sangat hangat di masyarakat.
Pada hari Sabtu, 31 Oktober, isu kanibal berendus sampai ke Desa Botto Kecamatan Campalagian. Bahkan pada hari itu, terdengar kabar jika manusia kanibal telah sampai ke Botto dan sudah memakan korban. Setelah tim Radar Sulbar ke Botto, tidak mendapatkan informasi adanya manusia kanibal. Justru warga Botto juga heran dengan cerita tersebut.
Akibat gusar isu kanibal, beberapa warga Kecamatan Tinambung, Kecamatan Limboro dan sekitarnya takut bepergian ke Kecamatan Wonomulo, Kecamatan Tapango dan sekitarnya. Mereka takut menjadi korban manusia kanibal.
Kegusaran warga juga diperlihatkan dengan tindakan berbau mistis.
Beberapa warga mulai mencari bambu kuning (Mandar: tarring bulawang) sebagai jimat pengusir manusia kanibal. Tangkai bambu kuning, diambil lalu diberi benang. Lalu dilingkarkan ke perut orang yang hendak mengusir kanibal. Adapula yang menggunakan lengkuas sebagai jimat pengusir kanibal.
Ketika bepergian, lengkuas dibawa serta dengan harapan kanibal akan menjauhinya. Menjawab beribu kegusaran warga akan isu kanibal tersebut, Ketua Komisi I DPRD Polewali Mandar, Syamsul Samad, meminta pemerintah turun tangan. Dalam pandangannya, isu itu telah mengganggu keamanan dan
ketertiban warga. "Harusnya pemerintah punya langkah-langkah untuk menenangkan warga. Jangan dibiarkan isu itu terus berkembang," saran Syamsul Samad. (bur/rpq)
POLEWALI -- Cerita kanibal atau manusia pemakan manusia kini semakin membuat gusar segenap warga Polewali Mandar. Cerita ini semakin heboh karena dikabarkan telah menelan korban manusia. Benar atau tidak, menjadi tanda tanya besar.
Cerita misterius manusia pemakan manusia ini telah menyebar luas ke hampir seluruh wilayah di Polewali Mandar. Bahkan cerita ini sudah sampai pula ke Pulau Kalimantan, ke telinga perantau Mandar di sana.
Menjawab isu tersebut, Radar Sulbar melakukan investigasi selama beberapa hari terakhir. Hasil penulusuran tim Radar Sulbar, disimpulkan cerita manusia kanibal sulit dipercaya kebenarannya.
Informasi adanya manusia kanibal diduga berawal di Dusun I Tapango Desa Tapango Kecamatan Tapango. Di dusun ini, dikabarkan seorang warga telah menjadi korban manusia kanibal. Diduga menjadi korban kanibal, Alawiah, berusia sekitar 40 tahun, warga Dusun I Tapango. Ia meninggal secara misterius sebulan yang lalu, tidak jauh dari rumahnya.
Keterangan yang diperoleh dari keluarga Alawiah, justru berbeda dengan isu yang berhembus di masyarakat. Orang tua Alawiah, Abd Hamid, mengatakan Alawiah bukan meninggal karena dimakan manusia kanibal.
Tapi Alawiah meninggal dunia karena dugaan menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi berdasarkan hasil cek terakhir di RSU Parepare, sekitar lima hari sebelum meninggal. Tekanan darah Alawiah disebutkan mencapai 150.
Hamid bercerita, pada waktu itu, Alawiah ke sumur di belakang rumahnya, untuk mandi pagi. Jarak sumur dari rumahnya sekitar 200 meter. Tiba-tiba perasaanya tidak enak, sehingga kembali ke rumahnya sebelum sampai ke sumur.
Ia mengaku kepada keluarganya jika leher bagian belakangnya terasa tegang, seperti baru saja dipukul seseorang. Tapi Ia merasa tidak pernah dipukul seseorang. Warga kemudian menggotong Alawiah ke rumah orang tuanya, tidak jauh dari rumahnya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Alawiah menghembuskan nafas terakhirnya. Menurut Hamid, dari peristiwa tersebut kemungkinan banyak pihak yang menganggap jika Alawiah meninggal oleh kanibal. Apalagi Alawiah sedang
mengandung selama tujuh bulan.
Tapi Hamid menegaskan jika itu tidak benar, sebab sebelum meninggal, Alawiah masih mengungkapkan apa yang telah dialaminya kepada warga dan orang tuanya. Tetangga Alawiah, Darwis (40), juga membantah isu yang beredar soal manusia kanibal.
Dirinya yang melihat langsung Alawiah sebelum meninggal, tidak melihat ada ciri pada diri Alawiah seperti ada bekas gigitan kanibal dan semacamnya. Tapi tetap meninggal secara wajar. Radar Sulbar juga memperoleh cerita dari warga Batutaka Kelurahan Pelitakang, Anti (35). Ia mengaku, sebelum Alawiah meninggal, dirinya sempat didatangi perempuan separuh baya. Orang tua itu mengenakan baju
merah.
Di bawah kolong rumahnya, orang tua itu meminta makan kepada Anti. Lalu Anti bertanya kepada si orang tua soal makanan yang hendak dimakannya. Sebagai penjual kue, Anti mempersilakan perempuan tua tersebut untuk memilih kue yang disukainya. Namun orang tua itu menolak dan mengatakan, "bukan itu yang saya mau makan, tapi orang," kata Anti mengutip ucapan si orang tua tersebut.
Mendengar ucapan itu, Anti lalu mengambil parang dan mengusir si perempuan tua. Anti juga berteriak minta tolong kepada tetangganya. Akhirnya tetangganya berdatangan. Anti kepada warga mengatakan, ada orang yang mendatanginya hendak memakan manusia. Lalu warga mencari orang tersebut, tetapi sudah tidak dilihat jejaknya.
Dari peristiwa Anti tersebut, warga menduga awal cerita manusia kanibal menyebar ke mana-mana. Namun sebagian besar warga Batutaka tidak percaya dengan cerita manusia kanibal tersebut. Meski demikian, sebagian warga di sana tetap gusar. Akhirnya warga melakukan ronda malam. Selama ini maupun selama melakukan ronda, warga tidak pernah menemukan ada manusia kanibal.
Terpisah, Kades Tapango, Abd Salam AR, sangat heran dengan isu manusia kanibal yang menyebar luas. Padahal sepengetahuannya, tidak pernah ditemukan ada manusia kanibal di desanya. Dalam pengetahuan Salam, pernah ada seseorang asing yang dimassa warga karena dicurigai manusia kanibal. Orang asing itu kemudian diketahui bernama Adi Siswanto, lalu diamankan ke Pospol Tapango. Belakangan diketahui jika Siswanto ternyata menderita sakit jiwa alias gila.
Usai kejadian itu, Radar Sulbar memperoleh informasi jika Siswanto, si orang gila, kini sering berkeliaran di Pasar Induk Wonomulyo. Tapi sampai saat ini, si orang gila yang diduga kanibal ternyata tidak pernah juga memakan orang. Sebagian warga di pasar tidak percaya jika si orang gila itu adalah kanibal.
Kepala Pospol Tapango, AKP Simon mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemantauan di wilayah kerjanya, tidak pernah mendapatkan manusia kanibal. Pihaknya juga sudah menyebar intelijen, juga tidak mendapatkan informasi akan adanya manusia kanibal.
"Tidak benar itu, seluruh desa sudah kita lakukan patroli, ternyata tidak ada," kata Simon. Meski Fiktif, Warga Tetap Gusar Isu manusia kanibal ini, terasa sangat fiktif, namun sebagian masyarakat tetap gusar. Pantauan Radar Sulbar di beberapa wilayah, cerita manusia kanibal sangat hangat di masyarakat.
Pada hari Sabtu, 31 Oktober, isu kanibal berendus sampai ke Desa Botto Kecamatan Campalagian. Bahkan pada hari itu, terdengar kabar jika manusia kanibal telah sampai ke Botto dan sudah memakan korban. Setelah tim Radar Sulbar ke Botto, tidak mendapatkan informasi adanya manusia kanibal. Justru warga Botto juga heran dengan cerita tersebut.
Akibat gusar isu kanibal, beberapa warga Kecamatan Tinambung, Kecamatan Limboro dan sekitarnya takut bepergian ke Kecamatan Wonomulo, Kecamatan Tapango dan sekitarnya. Mereka takut menjadi korban manusia kanibal.
Kegusaran warga juga diperlihatkan dengan tindakan berbau mistis.
Beberapa warga mulai mencari bambu kuning (Mandar: tarring bulawang) sebagai jimat pengusir manusia kanibal. Tangkai bambu kuning, diambil lalu diberi benang. Lalu dilingkarkan ke perut orang yang hendak mengusir kanibal. Adapula yang menggunakan lengkuas sebagai jimat pengusir kanibal.
Ketika bepergian, lengkuas dibawa serta dengan harapan kanibal akan menjauhinya. Menjawab beribu kegusaran warga akan isu kanibal tersebut, Ketua Komisi I DPRD Polewali Mandar, Syamsul Samad, meminta pemerintah turun tangan. Dalam pandangannya, isu itu telah mengganggu keamanan dan
ketertiban warga. "Harusnya pemerintah punya langkah-langkah untuk menenangkan warga. Jangan dibiarkan isu itu terus berkembang," saran Syamsul Samad. (bur/rpq)


0 Komentar:
Posting Komentar
Isilah formulir komentar ini dengan benar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda